Komitmen Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Purbalingga untuk memfasilitasi desa-desa yang ingin membuat website desa sepertinya akan segera terbukti.

Rabu, (10/5) kemarin, Dinkominfo Purbalingga, bekerjasama dengan LPPM Universitas Jenderal Soedirman dan Pemerintah Kecamatan Bobotsari, mengadakan kegiatan Pemberdayaan Website Desa untuk Mendukung Keterbukaan Informasi Publik dan fasilitasi pendaftaran website desa.


Selain sebagai wujud komitmen, kegiatan tersebut juga dilaksanakan dalam rangka percepatan penerapan sistem informasi desa di kabupaten Purbalingga. Ada 50 peserta dari 4 kecamatan yang hadir dalam kegiatan tersebut. Masing-masing dari kecamatan Bobotsari, Karanganyar, Mrebet, dan Bojongsari.

Sesi pertama, Kepala Desa Karanganyar, Tofik menjelaskan tentang pengalaman desanya menggunakan website desa. Menurutnya, keberadaan website desa sangat membantu kinerja pemerintah desa. Sebab, selain berisi tentang pemberitaan masyarakat desa, website desa Karanganyar juga berisi tentang data-data penting di desa seperti data penduduk, data jumlah kemiskinan, serta data transparansi anggaran.

“Ketika kita sudah memiliki data dalam bentuk digital, maka kita akan dengan mudah menggunakan data tersebut, tanpa repot-repot harus membuka buku catatan,” kata Tofik.

Pada sesi kedua, hadir sebagai Narasumber Ketua Relawan Tekhnologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Purbalingga, Sukman Ibrahim yang juga meruapakn salah satu Kepala Dusun (Kadus) di Desa Dagan Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga

Sukman bercerita tentang promosi produk lokal di desa saya melalui website. Menurutnya, website desa Dagan sudah terintegrasi dengan E-commerce.
Sukman mempromosikan produk batik tulis lokal yang diproduksi oleh warga desa Dagan. Pengalaman yang membuatnya semakin optimis mengelola website desa adalah, ketika ada pembeli produk batik tulis yang dia promosikan.

Usai sesi tanya jawab, Sukman menyampaikan bahwa kawan-kawan RTIK Purbalingga siap membantu desa-desa yang baru akan memiliki website. Sebab, kawan-kawan RTIK Purbalingga sudah terbiasa melakukan juguran dengan para admin website desa, yang kebetulan sudah memiliki website desa terlebih dahulu.

Pada akhir sesi, Sukman menyampaikan kepada para peserta, bahwa sebenarnya tidak ada paksaan bagi desa untuk memiliki website. Sebab, jika dipaksa, maka hasilnya tidak akan maksimal. Oleh karena itu, dia berharap agar desa-desa yang akan memiliki website, juga harus mempunyai niat untuk membangun desa dengan menggunakan teknologi informasi. (Mas Broh)